#LearnerStories - Ferry Doringin

October 14, 2015 | 4 Minute Read

Di Meetup pertama #IndonesiaX, kami mendengar banyak cerita menarik dari Siswa IndonesiaX. Salah satunya, dari keluarga Ferry Doringin. Cerita keluarga yang satu ini kami angkat ke dalam #LearnerStories. Simak ceritanya di bawah ini.

Ferry Doringin:

KAMI SEKELUARGA MENIKMATI KURSUS ONLINE INDONESIAX

Kursus online IndonesiaX menyemangati anak-anak kami dalam mengikuti Homeschooling. Saya termasuk orang yang optimis dengan pendidikan non-formal dan informal di Indonesia. Pendidikan tidak perlu mahal, tidak perlu dibatasi dengan gedung, dan sejak dini anak-anak dibantu untuk menemukan minat dan talenta mereka. Tahun 2014, anak ketiga kami menjalani Homeschooling dan tahun 2015, seluruh empat anak kami menjalani Homeschooling.

Orangtua bisa membantu anak secara maksimal, asalkan memiliki waktu, pengetahuan, dan sumber-sumber pengetahuan. Saya dan istri, Jansi Kuntag merasa memiliki waktu dan pengetahuan. Bagaimana dengan sumber-sumber pengetahuan. Di situlah kami berselancar di internet untuk mendapatkan sumber-sumber pengatahuan murah atau gratis yang mendukung minat dan talenta anak.

Dari utak-atik internet, anak-anak kami bisa mengikuti pelajaran online, yakni Quipper School, Khan Academy dan Zenius. Dari program-program itu, hanya Zenius yang dibayar. Sedangkan yang lain dijalani dengan gratis.

Materi-materinya adalah materi pelajaran sebagaimana diperoleh di sekolah. Ada satu tekad kami yang lain, yakni anak-anak memperoleh softskill dan pelajaran khusus yang terkait dengan minat dan bakat mereka.

Bulan Agustus, saya membaca artikel dari penulis favorit saya, Rhenald Kasali berjudul: Hati-hati “Sudden Shift”, Fenomena Perubahan Abad Ke-21. Salah satu pembahasannya adalah kursus online yang begitu ‘powerful’ dan bagaimana Indonesia X memulainya. Saya dan anak-anak langsung mengunjungi website Indonesia X dan berusaha menggali info sebanyak mungkin. Dua anak kami yang sudah remaja, Stella (16 – hampir 17) dan Pingkan (15), menetapkan pilihan kursus Broadcasting. Anak-anak kami rajin membaca dan semuanya mengaku senang menulis. Mereka memahami bahwa program Broadcasting menunjang minat mereka. Si Sulung yang beberapa kali mengikuti lomba modelling juga merasa terbantu dengan memahami dunia Broadcasting.

Jadilah, mereka mempersiapkan diri untuk mengikuti kursus Broadcasting dan saya memulai kursus Change Management. Namun, kursus Broadcasting belum berjalan. Karena itu, anak-anakku beberapa kali ikut menemani saya mengikuti kursus Change Management. Ternyata, anak-anak merasa bahwa kursus itu begitu menarik. Mereka sangat senang mengenal tokoh sejarah tertentu dan perubahan yang dilakukan Sang Tokoh. Mumpung mereka tertarik, kami menjadwalkan nonton bareng kursus Change Management pukul 07.00 ketika menunggu sarapan pagi pukul 07.30. Kami berenam, yakni saya, istri dan empat anak kami mengikuti kursus itu dengan antusias. Sesudah menonton video, anak-anak bisa mengulang lagi hal-hal menarik. Mereka tahu persis tokoh pelaku perubahan dan jasa besarnya yang mendatangkan rasa kagum.

Setiap hari kami melakoni jadwal ini. Anak-anak merasa disemangati untuk mengikuti pelajaran sekolah mereka yang dimulai pukul 08.00. bisa juga anak-anak mengikuti pelajaran ini pukul 12.00, ketika kami menunggu penyelesaian makan siang kami pukul 12.30. Mulanya, kursus ini kami ikuti sekali (satu video) dalam sehari dan bisa juga dua kali sehari, yakni pukul 07.00 dan pukul 12.00.

Meskipun kursus ini diikuti oleh kami berenam, tetapi hanya saya yang menjalankan tesnya. Pada modul 1 dan 2, saya memperoleh poin 8 dari 10 soal. Saya merasa tidak puas. Karena itu, pada modul 3, saya mengajak anak-anak untuk membantu papanya menyelesaikan tes. Ternyata saya bisa memperoleh nilai 10.

Namun, anak ketiga saya Teresa yang berusia 12 tahun, merasa tidak puas. Dia mengaku sudah mendaftar sendiri dan ingin mengikuti tes sendiri. Ternyata, anak sulung kami juga mengaku sudah mendaftar dan ingin mengikuti tes dan memperoleh sertifikat. Mendengar tekad Stella dan Teresa, anak kedua kami (Pingkan) dan Si Bungsu (Ignasia) juga mengaku ingin ikut tes. Saya merasa bangga dengan anak-anakku.

Saya kesulitan mereka adalah laptop yang mereka gunakan sering bermasalah sehingga saya menjanjikan untuk membelikan mereka laptop yang baru.

Beberapa waktu kemudian, anak sulung saya bertanya, mengapa saya tidak mengikuti program Stock Exchange. Dia mempromosikan bagaimana kursus itu begitu menarik dan sangat relevan untuk jaman sekarang. “Pasar modal itu perlu diketahui dan banyak sekali kemungkinan bisa dilakukan bila kita memiliki pengetahuan mengenai pasar modal,” ujarnya.

Saya mengatakan bahwa saya sudah mencoba untuk melihatnya dan merasa kurang tertarik. Namun, Stella merespon saya dengan menyatakan bahwa dia sudah mengikuti kursus itu sekian lama dan mendapatkan banyak manfaat dari situ. “Ada bagian awal yang ilustrasinya kurang namun sesudah itu, kursusnya sangat menarik,” ujarnya. Saya berjanji untuk mengikuti anjurannya, mengakses kursus Stock Exchange. Namun, ternyata, kursus itu sudah ditutup dan saya hanya bisa mengakses kursus tetapi mungkin tidak bisa menerima ijazah. Jawaban Stella membuatku kagum,”Saya juga sudah terlambat menyelesaikan kursus ini. Meski tidak mendapatkan ijazah namun saya rasa pengatahuannya sangat berguna,” ujarnya.

Saya merasa bangga dengan anak-anakku yang begitu bersemangat untuk mengikuti kursus-kursus di IndonesiaX. Mereka merasa disemangati untuk menggali ilmu dan ketrampilan sebanyak mungkin.

Saya membayangkan bahwa ke depan, pendidikan di Indonesia bisa maju dengan biaya murah, lebih kreatif, lebih menghargai proses dan penghargaan terhadap minat, kreativitas dan bakat anak. Juga, pendidikan tidak harus melalui sekolah formal yang sering terlalu mahal, agak otoriter (maaf untuk pendapat pribadi ini), dan bisa mematikan kreativitas anak.

Sejak tahun 2014, anak ketiga saya Teresa sudah mengikuti Homeschooling; sejak tahun 2015, tiga anak yang lain juga mengikuti Homeschooling. Kami berharap, mereka bisa menggunakan hari-hari mereka dengan lebih maksimal, lebih menikmati pelajaran mereka, dan bisa menajamkan bakat dan talenta mereka. Terima kasih untuk inspirasi dari Indonesia X.

Di posting oleh Ferry Doringin tanggal 13 Oktober 2015 pukul 11.21 WIB. Untuk melihat posting Ferry Doringin bisa ke http://on.fb.me/1OuXk8D.